METROSERGAI.COM, Medan- Gubernur Bobby Nasution terus menggencarkan gerakan pemulihan pasca bencana di Sumut. Selain mendesak penutupan korporasi perusak hutan, gubernur termuda di Indonesia ini juga menggelontorkan anggaran hingga Rp430 miliar untuk pendidikan dan kesehatan.
Informasi dihimpun, Selasa (13/1/2026), bencana yang menimpa Sumut November 2025 kemarin terindikasi disebabkan perusahaan yang merusak hutan dan lingkungan.
Bobby pun mencium indikasi itu. Tak berapa lama, alumni magister manajemen IPB itu merekomendasikan penutupan sejumlah perusahaan, salah satunya Toba Pulp Lestari (TPL).
“Tutup saja perusahaan itu. Termasuk TPL,” kata Bobby setibanya di Lanud Soewondo setelah enam hari di lokasi bencana Tapteng dan Sibolga, Kamis 4/11/2025 sore.
Alhasil, pada 11 Desember 2025 pemerintah pusat resmi menutup operasional perusahaan bubur kertas tersebut.
Tak sampai di situ, gerak cepat Bobby pasca bencana juga menyasar ke hunian tetap bagi korban yang kehilangan tempat tinggal.
Bobby telah memulai pembangunan huntap l 1.000 unit bagi korban terdampak banjir dan longsor di wilayahnya. Pembangunan hunian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Yayasan Buddha Tzu Chi dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Diharapkan sebelum Ramadhan tahun ini huntap tersebut sudah bisa dihuni.
Langkah lainnya dilakukan Bobby adalah melakukan penghijauan menanam sejuta pohon bersama utusan khusus Presiden Prabowo, yakni Hashim Djojohadikusumo di Kompleks Perkampungan Pemuda HKBP Jetun Silangit, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumut, Minggu (11/1).
“Bencana ini jadi pelajaran besar, bukan hanya menangani bencana tapi bagaimana bencana alam bisa kita antisipasi melalui menjaga alam,” kata Bobby.
Kemudian terobosan signifikan lainnya yakni Bobby menggelontorkan anggaran Rp430 miliar untuk pemulihan bencana.
Anggaran tersebut dialokasikan ke lima bidang prioritas untuk mempercepat proses pemulihan di wilayah terdampak bencana.
Alokasi terbesar berada di bidang infrastruktur, meliputi perbaikan jalan, jembatan, tanggul, normalisasi sungai, sumber daya air, serta rehabilitasi rumah, dengan total sekitar Rp275 miliar.












