Lifestyle

Pesan Terakhir Ki Hadjar Dewantara kepada Bung Karno yang Patut Diingat Bangsa Indonesia

×

Pesan Terakhir Ki Hadjar Dewantara kepada Bung Karno yang Patut Diingat Bangsa Indonesia

Sebarkan artikel ini

METROSERGAI.com – Momen penuh sejarah antara Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara.

Kembali menjadi pengingat penting tentang arti perjuangan dan kecintaan terhadap bangsa.

Pada April 1959, Bung Karno datang membesuk Ki Hadjar Dewantara yang saat itu tengah sakit keras.

Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan seorang kepala negara, namun perjumpaan mendalam antara murid dan mentor.

Yang telah lama saling menginspirasi dalam membangun fondasi Indonesia merdeka, khususnya di bidang pendidikan.

Taman Siswa, Inspirasi Pendidikan Berkepribadian Nasional

Ki Hadjar Dewantara, yang lahir dengan nama Suwardi Suryaningrat dan merupakan pangeran dari Kadipaten Paku Alam Yogyakarta.

Dikenal sebagai pendiri Taman Siswa, sebuah sekolah yang menanamkan nilai cinta tanah air, kemandirian, dan kepribadian bangsa.

Taman Siswa menjadi rujukan Bung Karno untuk membangun konsep “pendidikan berkepribadian nasional”. Sejumlah tokoh ternama Indonesia merupakan lulusan sekolah ini, di antaranya:

Benyamin Sueb,Ateng,Sutradara Sjumandjaja,Rano Karno,S. M. Ardan,Dan banyak tokoh seni-budaya lainnya

Mereka dibentuk menjadi pribadi berkarya besar namun tetap berakar pada identitas Indonesia sebuah nilai yang menjadi ciri khas lulusan Taman Siswa.

Filosofi Pendidikan yang Abadi

Ki Hadjar Dewantara memperkenalkan konsep pendidikan yang hingga kini menjadi semboyan resmi Kementerian Pendidikan:

“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan.

Filosofi ini menggambarkan pola pendidikan yang humanis, membebaskan, dan menempatkan karakter bangsa sebagai pusat pembangunan manusia.

Air Mata Ki Hadjar untuk Indonesia

Saat Bung Karno duduk di sisi ranjangnya pada tahun 1959, Ki Hadjar Dewantara dikabarkan memandangi wajah sang proklamator dengan haru.

Kenangan tentang dua sahabat seperjuangannya Dr. Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker—seolah hadir kembali dalam benaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *