“Kunci dari perubahan adalah belajar. Pemimpin ketika berhenti belajar, organisasinya tidak akan tumbuh. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang meninggalkan legacy (warisan kebermanfaatan) yang dimulai dari proses transformasi,” tutur Erna.
Ia juga mengingatkan agar proyek perubahan yang telah dirancang para peserta tidak berhenti setelah pelatihan berakhir, tetapi terus dilanjutkan dan dikembangkan sehingga memberikan manfaat bagi organisasi dan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sumut Agustinus Panjaitan dalam laporannya menyampaikan, PKN Tingkat II Angkatan XII mengusung tema “Kepemimpinan Adaptif dalam Transformasi Tata Kelola Penanggulangan Bencana untuk Mewujudkan Resiliensi dan Daya Saing Daerah”.
Pelatihan yang berlangsung sejak 20 Mei hingga 25 September 2026 tersebut diikuti 49 peserta dari berbagai instansi, antara lain Pemerintah Provinsi Sumut, Kejaksaan Agung RI, serta sejumlah pemerintah kabupaten/kota di Sumatera Utara dan daerah lainnya, seperti Kampar dan Pasaman Barat.
“Dari total 49 peserta, sebanyak 48 orang dinyatakan LULUS, sementara 1 orang ditunda kelulusannya dikarenakan sakit,” papar Agustinus.
Berbeda dengan angkatan sebelumnya yang mengunjungi lokasi best practice, Visitasi Kepemimpinan Nasional (VKN) angkatan ini dilaksanakan langsung di lokasi pascabencana di Kabupaten Tapanuli Selatan.
Dari hasil kajian lapangan tersebut, peserta merumuskan sejumlah rekomendasi, antara lain penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana berbasis data, perlindungan dan perawatan kelompok rentan pascabencana, transformasi kepemimpinan melalui kolaborasi dan kearifan lokal, serta pemulihan pelayanan publik pascabencana.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pemberian apresiasi kepada lima peserta terbaik Angkatan XII serta penyerahan rekomendasi kebijakan (policy brief) kepada pemerintah daerah. **












