Pemimpin yang mampu mendengar keluhan, terbuka terhadap kritik dan aspirasi, serta berani mengambil kebijakan untuk kepentingan masyarakat luas.
Selain itu, menurut Ega, generasi muda juga harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan Serdang Bedagai.
Anak muda tidak hanya perlu menjadi objek pembangunan, tetapi juga diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam proses pembangunan daerah.
“Pemimpin ke depan harus mampu merangkul generasi muda.
Mereka adalah bagian penting dari masa depan Sergai.
Jangan hanya dilibatkan ketika ada kegiatan seremonial, tetapi harus diberi ruang untuk menyampaikan gagasan dan ikut berkontribusi dalam pembangunan,” tegasnya.
Ega yang juga aktif dalam dunia pers mahasiswa menilai keterbukaan terhadap kritik dan informasi menjadi salah satu indikator penting kepemimpinan yang sehat.
Pers dan mahasiswa, menurutnya, memiliki peran dalam menyampaikan aspirasi sekaligus menjadi mitra kritis pemerintah.
Ia berharap kepemimpinan Sergai ke depan tetap mengedepankan prinsip kedekatan dengan masyarakat, keterbukaan, pelayanan publik, serta keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.
“Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya akan mengingat program seorang pemimpin, tetapi juga bagaimana pemimpin tersebut memperlakukan rakyatnya.
Pemimpin yang hadir, mau mendengar, dan mampu menjadi panutan akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat,” pungkas Ega.
Sebagai catatan, aktivitas Bupati Darma Wijaya pada 2026 juga masih menunjukkan keterlibatan langsung dengan berbagai elemen masyarakat.
Pada Mei 2026, misalnya, Darma Wijaya melakukan audiensi dengan sejumlah unsur masyarakat dan institusi untuk memperkuat kolaborasi di Sergai.(edwin)












