Muhammad Farhan Rizki, M.AP., anggota tim pengabdian, juga menekankan pentingnya keterlibatan langsung warga.
“Kami tidak ingin kegiatan ini hanya seremonial.
Warga kami ajak memegang bor, menggali lubang, dan memasukkan sampah organik sendiri, agar bisa mereplikasinya di rumah,” ujarnya.
Siti Hazzah menegaskan biopori adalah solusi murah dan mudah. “Tidak perlu alat mahal.
Yang paling penting adalah kemauan memulai dan konsistensi merawatnya,” tegasnya.
“Bayangkan jika setiap rumah memiliki minimal satu lubang biopori.
Kita bisa mengelola ratusan kilogram sampah organik per minggu dan meningkatkan daya resap tanah secara signifikan—langsung di kawasan yang paling sering dilanda banjir,” pungkasnya.(tim)












