Lifestyle

Klaim Bobby Nasution soal Pembangunan Medan Tuai Sorotan, Pengamat: Keberhasilan Harus Diukur dari Manfaat, Bukan Narasi

×

Klaim Bobby Nasution soal Pembangunan Medan Tuai Sorotan, Pengamat: Keberhasilan Harus Diukur dari Manfaat, Bukan Narasi

Sebarkan artikel ini

Atau bahkan berpotensi menjadi beban keuangan daerah akibat mangkrak maupun membutuhkan perbaikan berulang.

“Kalau sebuah proyek strategis masih belum selesai atau belum berfungsi optimal, maka secara objektif capaian pembangunannya belum bisa disebut tuntas,” tegasnya.

Elfenda juga mengingatkan bahwa proyek-proyek strategis umumnya dikerjakan lintas periode pemerintahan.

Karena itu, kesinambungan pembangunan harus menjadi prioritas agar pergantian kepemimpinan tidak menghambat penyelesaian program yang telah direncanakan.

Ia menilai kritik masyarakat di media sosial justru mencerminkan meningkatnya kesadaran publik dalam mengawasi penggunaan anggaran negara.

“Respons masyarakat seharusnya dijadikan bahan evaluasi.

Pemerintah tidak perlu terjebak pada pencitraan, tetapi fokus membuktikan hasil pembangunan melalui transparansi, akuntabilitas, dan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Pandangan senada disampaikan Founder Ethics of Care, Dr. Farid Wajdi.

Menurutnya, polemik tersebut bukan semata soal siapa yang membangun, melainkan menyangkut integritas akuntabilitas pemerintahan dalam negara demokrasi.

Farid menegaskan ukuran keberhasilan pembangunan tidak ditentukan oleh siapa yang memulai proyek ataupun banyaknya proyek yang diumumkan kepada publik.

Melainkan sejauh mana hasilnya benar-benar meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Yang sedang diuji publik adalah integritas akuntabilitas pemerintahan.

Ketika sebuah proyek masih menyisakan pekerjaan, manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat, atau kualitasnya masih dipersoalkan.

Klaim keberhasilan akan selalu berhadapan dengan satu pertanyaan sederhana tetapi sangat menentukan: berhasil menurut ukuran siapa?” katanya.

Menurut Farid, pembangunan publik hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, bukan menjadi simbol keberhasilan individu.

Karena itu, klaim prestasi menjadi problematis apabila kondisi di lapangan menunjukkan proyek belum selesai.

Atau belum memberikan pelayanan sebagaimana mestinya.

“Anggaran telah terserap bukan berarti manfaat telah hadir. Bangunan telah berdiri bukan berarti pelayanan telah berjalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *