Menurutnya, esensi dari kedamaian sejati bukanlah tentang memaksakan keseragaman, melainkan tentang bagaimana setiap individu mampu merangkul perbedaan dengan penuh rasa hormat.
“Perdamaian tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari kemampuan kita untuk hidup berdampingan dalam keberagaman,” jelas Arman Chandra.
Ditambahkan Arman Chandra, perayaan Hari Waisak menjadi cerminan nyata dari identitas asli Kota Medan, di mana berbagai suku, ras, dan agama dapat melebur dalam satu ikatan persaudaraan yang kokoh.
“Kami apresiasi yang mendalam kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan atas dukungan tanpa henti yang membuat perayaan Waisak dapat berjalan secara masif, meriah, dan inklusif. Bagi Walubi, langkah nyata Pemko Medan dalam memfasilitasi hari besar keagamaan merupakan bukti otentik bahwa kenyamanan beribadah adalah hak bagi semua warga”, sebutnya.
Selanjutnya puncak perayaan Hari Waisak 2570 BE/ 2026 ditandai dengan penyalaan api obor atau pelita perdamaian termasuk lilin sebagai simbol harapan akan terwujudnya kehidupan yang harmonis, toleran, dan saling menghormati. Penyalaan api obor ibu dilakukan Rico Waas bersama Wakil Walikota Medan H Zakiyuddin Harahap serta unsur Forkopimda dan tokoh agama.
Tidak hanya itu, perayaan Hari Waisak yang digelar Pemko Medan ini juga diisi dengan pelepasan pawai Waisak yang diikuti ratusan umat Buddha. Pelepasan pawai Waisak ini dilakukan Rico Waas didampingi Ketua TP PKK Kota Medan.***












