Erpangir Ku-Lao merupakan ritual pembersihan diri yang pada masa lalu dilakukan oleh penganut kepercayaan Pemena (Pamenah). Erpangir Ku-Lao berarti mandi atau membersihkan diri menggunakan pangir, yakni ramuan tradisional yang terbuat dari dedaunan aromatik, bunga-bunga, serta jeruk purut (utep) yang disiramkan dengan air sungai atau sumber air bersih.
Dalam tatanan adat Karo, ritual tersebut dipahami sebagai simbol pembersihan aura negatif, penyembuhan, pembuangan sial (sira mesira), serta ungkapan rasa syukur atas kelimpahan hasil bumi.
Kehadiran Erpangir Ku-Lao dalam Festival Bunga dan Buah 2026 menegaskan komitmen Kabupaten Karo dalam menjaga keseimbangan antara pengembangan pariwisata, penguatan sektor pertanian, dan pelestarian akar budaya lokal.**












