METROSERGAI.COM, Riau – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Rambah Jaya, Kabupaten Rokan Hulu, Riau, tidak hanya menghadirkan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air.
Di balik prosesi khidmat pengibaran Sang Saka Merah Putih, terselip sebuah kisah sederhana namun sarat makna tentang persaudaraan, kepedulian, dan kuatnya ikatan budaya yang melampaui batas geografis.
Salah satu petugas pengibar bendera pada upacara tersebut adalah Ruwaida Sinaga, mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau yang tengah menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Rambah Jaya.
Dengan langkah tegap dan penuh percaya diri, Ruwaida Sinaga menjalankan tugas yang dipercayakan kepadanya. Penampilannya menjadi bagian dari rangkaian upacara yang berlangsung tertib dan penuh khidmat.
Namun, siapa sangka, nama yang diumumkan protokol sesaat sebelum prosesi pengibaran bendera justru menjadi awal dari sebuah peristiwa yang menyentuh hati.
Ketika protokol membacakan identitas para petugas upacara, termasuk nama orang tua masing-masing, nama Ruwaida Sinaga menarik perhatian seorang ibu yang hadir sebagai tamu upacara.
Nama “Sinaga” yang merupakan salah satu marga besar Batak rupanya membangkitkan rasa kedekatan dan kekeluargaan dalam dirinya.
Setelah upacara selesai, ibu tersebut menghampiri Ruwaida Sinaga. Dengan wajah penuh kebanggaan, ia menyampaikan apresiasi atas keberanian dan dedikasi mahasiswi itu yang telah menjalankan tugas negara pada momentum bersejarah peringatan kemerdekaan.
”Sukses selalu ya, Nak Ruwaida Sinaga,” ucapnya hangat.
Sebagai bentuk dukungan dan kasih sayang, ibu tersebut kemudian memberikan uang sebesar Rp100.000 untuk uang jajan.
Bagi sebagian orang, nilai itu mungkin tidak seberapa. Namun bagi Ruwaida, perhatian yang tulus dari seseorang yang sebelumnya tidak dikenalnya menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga.
Dengan penuh hormat, Ruwaida Sinaga mengucapkan terima kasih Ibu.
Namun jawaban yang diterimanya justru membuat suasana menjadi semakin haru.
”Jangan panggil ibu, panggil saja Bou,” kata perempuan tersebut.
Dalam tradisi Batak, “Bou” bukan sekadar sapaan. Kata itu mengandung makna kekeluargaan, kasih sayang, perlindungan, dan penghormatan kepada sosok perempuan yang dianggap bagian dari keluarga besar.
Tak berhenti sampai di situ, perempuan tersebut kembali berpesan kepada Ruwaida.
”Jangan lupa datang ke rumah Bou. Pintu rumah Bou selalu terbuka untuk Ruwaida.”
Kalimat sederhana itu seolah menghapus jarak antara kampung halaman dan tanah perantauan. Di tengah tugas KKN yang dijalani jauh dari keluarga, Ruwaida menemukan kehangatan yang mengingatkannya pada rumah.
Kisah ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya dan persaudaraan masih hidup di tengah masyarakat. Di mana pun orang Batak berada, ikatan marga sering kali menjadi jembatan yang mempertemukan hati dan mempererat hubungan antarsesama.
Lebih dari itu, peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan bendera atau mengenang perjuangan para pahlawan. Kemerdekaan juga dirayakan melalui tumbuhnya rasa persatuan, kepedulian, dan solidaritas antarsesama anak bangsa.
Bagi Ruwaida Sinaga, tugas sebagai pengibar bendera pada HUT ke-81 Republik Indonesia akan menjadi kenangan yang sulit dilupakan.












