Lifestyle

Klaim Bobby Nasution soal Pembangunan Medan Tuai Sorotan, Pengamat: Keberhasilan Harus Diukur dari Manfaat, Bukan Narasi

×

Klaim Bobby Nasution soal Pembangunan Medan Tuai Sorotan, Pengamat: Keberhasilan Harus Diukur dari Manfaat, Bukan Narasi

Sebarkan artikel ini

MEDAN I METROSERGAI.com – Pernyataan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution yang mengklaim sejumlah pembangunan di Kota Medan.

Sebagai hasil kerjanya saat menjabat Wali Kota Medan memicu perdebatan di ruang publik.

Pengamat menilai klaim tersebut sah secara administratif.

Namun keberhasilan pembangunan seharusnya diukur dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat, bukan sekadar klaim politik.

Polemik bermula saat pembukaan Rakernas APEKSI di Medan.

Dalam sambutannya, Bobby sempat berkelakar bahwa Wali Kota Medan Rico Waas “beruntung” karena dapat menampilkan berbagai hasil pembangunan Kota Medan dalam video profil.

“Kalau boleh sombong, Alhamdulillah saya yang bangun itu,” ujar Bobby.

Ucapan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.

Sejumlah warganet mempertanyakan klaim itu dengan menyoroti beberapa proyek strategis yang hingga kini dinilai belum sepenuhnya rampung atau belum berfungsi optimal.

Seperti revitalisasi Lapangan Merdeka dan pembangunan Islamic Center Medan.

Di sisi lain, tidak sedikit pula masyarakat yang mengapresiasi pembangunan yang telah berjalan dan berharap proyek-proyek tersebut segera diselesaikan oleh pemerintah saat ini.

Menanggapi polemik tersebut, pengamat kebijakan publik Elfenda Ananda mengatakan.

Seorang kepala daerah memang berhak mengklaim program maupun pembangunan yang dirancang dan dimulai pada masa kepemimpinannya.

Namun, menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari siapa yang memulai atau meresmikan proyek.

“Klaim itu sah secara administrasi.

Tetapi dalam perspektif kebijakan publik, keberhasilan harus dibuktikan melalui proyek yang selesai tepat waktu.

Berfungsi sesuai tujuan, bebas dari persoalan hukum, dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Elfenda kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).

Menurutnya, ukuran keberhasilan pembangunan saat ini seharusnya tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pada dampak yang dihasilkan bagi masyarakat.

Ia menegaskan, sebuah proyek strategis belum dapat disebut berhasil apabila masih menyisakan pekerjaan, belum dimanfaatkan secara optimal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *